Bekicot (Achatina fulica)
Dalam keheningan malam setelah hujan, suara gemeretak dedaunan sering kali diselingi oleh pergerakan perlahan dari makhluk berlendir dengan cangkang spiral di punggungnya. Dialah Achatina fulica, si bekicot, yang diam-diam menjelajah dunia dengan cara yang berbeda—tenang, lembut, dan penuh misteri.
Walau sering dipandang sebelah mata sebagai hewan menjijikkan, bekicot menyimpan banyak hal yang tak disangka. Dari kebiasaan hidupnya yang unik, hingga manfaat ekonomis dan simbolisme dalam budaya, makhluk ini pantas mendapat sorotan lebih dari sekadar dianggap hama kebun.
|
| ilustrasi oleh Diono di Adobe Stock. |
Di berbagai daerah Indonesia, bekicot dikenal dengan sebutan yang beragam. Di Jawa, ia disebut “bekicot”, nama yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat. Di Sunda, dikenal sebagai “koncot”, dan di beberapa wilayah Sumatra disebut “siput darat”.
Perbedaan nama ini menggambarkan seberapa luas sebarannya dan bagaimana masyarakat telah berinteraksi dengannya sejak lama. Kadang dianggap musuh, kadang juga dijadikan obat atau bahan pangan alternatif. Keberadaannya bukan sekadar hiasan di rerumputan lembap, tapi bagian dari kehidupan desa dan kota.
Sebagai bagian dari kelompok moluska, Achatina fulica memiliki struktur tubuh yang khas. Ia tergolong dalam hewan bertubuh lunak dengan rumah (cangkang) sebagai perlindungan. Daya tahan dan adaptasinya luar biasa, bahkan dianggap spesies invasif di berbagai negara karena cepat berkembang biak dan sulit dikendalikan.
Pengelompokan ilmiahnya memberikan gambaran betapa kompleks sistem kehidupan hewan ini. Bekicot bukan hanya sekadar siput darat, tapi bagian dari dunia biologi yang penuh keragaman.
Berikut adalah klasifikasi ilmiahnya:
Kingdom: Animalia
Filum: Mollusca
Kelas: Gastropoda
Ordo: Stylommatophora
Famili: Achatinidae
Genus: Achatina
Spesies: Achatina fulica
Cangkang spiral dengan warna cokelat kehitaman menjadi ciri paling mudah dikenali dari bekicot. Bentuknya kerucut memanjang, dan bisa mencapai panjang 5–10 cm pada kondisi ideal. Cangkang ini tidak hanya pelindung, tetapi juga rumah permanen tempat ia berlindung dari kekeringan dan musuh.
Tubuhnya lembek dan berlendir, berwarna abu-abu hingga kecokelatan. Dua pasang tentakel tumbuh dari kepalanya—yang panjang berfungsi sebagai indra penglihatan, sedangkan yang pendek sebagai indra penciuman dan sentuhan. Gerakannya lambat, namun teratur dan pasti.
Bekicot memiliki kaki besar dan rata yang menghasilkan lendir agar ia bisa meluncur di permukaan kasar. Lendir ini juga berperan sebagai pelindung dari gesekan dan pengeringan, serta memiliki khasiat terapeutik yang kini mulai dilirik industri kosmetik.
Bekicot sangat menyukai lingkungan lembap dan teduh. Ia sering ditemukan di pekarangan, kebun, sawah, hutan, atau bahkan di sela-sela bangunan tua. Tempat yang banyak dedaunan basah dan kelembapan tinggi adalah favoritnya.
Saat musim kemarau, ia akan bersembunyi dan memasuki fase dorman, membentuk semacam lapisan pelindung di lubang cangkangnya untuk mempertahankan kelembapan. Begitu hujan turun, ia kembali aktif dan bergerak mencari makan.
Bekicot adalah hewan hermafrodit—memiliki dua organ reproduksi sekaligus. Meski begitu, proses kawinnya tetap memerlukan pasangan. Setelah kawin, ia akan bertelur di tanah atau tempat lembap, dengan jumlah mencapai ratusan butir dalam satu kali siklus.
Telur-telur tersebut akan menetas dalam waktu 1–2 minggu, tergantung kondisi lingkungan. Anak bekicot yang menetas berukuran sangat kecil dan rentan, namun mereka cepat tumbuh bila lingkungan mendukung dan tersedia makanan cukup.
Dalam waktu beberapa bulan, bekicot muda sudah bisa berkembang menjadi dewasa dan mulai bereproduksi. Inilah yang membuat populasinya bisa meledak jika tidak dikendalikan, apalagi tanpa predator alami yang cukup.
Dalam pertanian, bekicot sering dianggap hama karena memakan tanaman muda, terutama sayuran, padi, dan bunga. Kerusakan yang ditimbulkan bisa cukup serius dalam jumlah besar, dan karena aktivitas malamnya, kerusakan sering terlambat terdeteksi.
Selain merusak tanaman, bekicot juga bisa menjadi vektor penyakit. Salah satunya adalah parasit Angiostrongylus cantonensis yang menyebabkan meningitis eosinofilik pada manusia. Oleh karena itu, kontak langsung dengannya harus dilakukan dengan hati-hati.
Meski dicap sebagai hama, bekicot menyimpan banyak potensi manfaat. Dagingnya kaya protein dan telah lama dikonsumsi di beberapa daerah, bahkan diekspor sebagai bahan pangan eksotis ke luar negeri. Diolah dengan benar, rasanya gurih dan teksturnya kenyal.
Lendir bekicot kini menjadi bahan yang banyak dicari dalam industri kecantikan. Kandungan kolagen, elastin, dan glikoproteinnya membantu regenerasi kulit dan mempercepat penyembuhan luka. Krim berbasis lendir bekicot banyak dijual di pasaran, terutama di Asia.
Selain itu, cangkangnya mengandung kalsium tinggi dan bisa dijadikan bahan kerajinan atau pupuk organik. Bekicot pun menjadi bagian dari eksperimen bioteknologi dan penelitian farmasi karena daya regenerasinya yang luar biasa.
Dalam beberapa budaya, bekicot dilambangkan sebagai simbol kesabaran dan ketekunan. Geraknya yang lambat tapi pasti dianggap mewakili filosofi hidup yang tidak perlu terburu-buru, asalkan konsisten. Cangkangnya yang spiral juga sering dikaitkan dengan siklus kehidupan dan kebijaksanaan alam.
Referensi:
- Heim, R. R. (2015). The Giant African Snail: Achatina fulica. Springer.
- Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP), KLHK.
- World Health Organization (WHO). (2022). Foodborne trematode infections.
Komentar
Posting Komentar