Kepuh (Sterculia foetida)
Berdiri mencolok dengan batang besar dan tajuk melebar, pohon ini kerap dijumpai di tepi hutan, kawasan kering, hingga sekitar permukiman lama. Saat musim tertentu, daunnya luruh hampir seluruhnya, menyisakan cabang-cabang kokoh yang tampak dramatis. Di balik penampilannya yang sederhana, tersimpan sejarah panjang pemanfaatan serta peran ekologis penting. Sterculia foetida dikenal luas sebagai kepuh . Di beberapa daerah, tanaman ini juga disebut kepoh, kelumpang, atau kayu busuk, merujuk pada aroma khas bijinya saat masak. Di Jawa tetap populer dengan nama kepuh, sementara di Bali dikenal sebagai kepuh atau kepo. Ragam sebutan lokal ini muncul dari pengalaman masyarakat terhadap bau biji dan kebiasaan pohon ini tumbuh di lahan terbuka. ---ooOoo--- Kepuh dimanfaatkan secara tradisional sebagai pohon peneduh dan sumber kayu ringan. Bijinya mengandung minyak yang dahulu digunakan sebagai bahan lampu dan pelumas sederhana, sementara kulit batangnya kadang dipakai sebagai obat...