Deruk (Streptopelia bitorquata)
Deruk menampakkan diri pelan-pelan, seperti bunyi yang lebih dulu sampai sebelum tubuhnya terlihat. Suara membulat—kuk deruuuk… kook, deruk-deruk…—mengisi jeda pagi di kebun kelapa, di tepi kampung, atau di batas hutan sekunder. Tubuhnya tidak mencolok, namun ada sesuatu yang anggun: garis “kalung” gelap di tengkuk yang diselingi tepi putih tipis, seolah ia selalu berpakaian rapi untuk jam-jam paling sepi hari. Saat menulis cerita tentang deruk ini, ingatan saya melayang ke masa kecil, di mana orang tua saya memelihara 2 ekor burung yaitu satu deruk dan satunya lagi adalah perkutut.
Dikenal para pengamat burung sebagai Streptopelia bitorquata, kerabat merpati yang khas wilayah kepulauan Indonesia bagian tengah–timur. Kehadirannya jarang gegap gempita; justru kelembutan suaranya yang menautkan memori orang pada kampung halaman, pada siesta pendek selepas hujan, dan pada ruang-ruang hijau yang bertahan di tengah perubahan.
Deruk, deruk bali, tekukur pulau, derkuku, hingga dara kukur—aneka sebutan lokal melekat tergantung daerah dan kebiasaan tutur. Di sebagian komunitas, sebutan “deruk” merujuk langsung pada suaranya yang dalam dan ritmis. Di tempat lain, istilah “tekukur” kerap dipakai lintas jenis untuk burung merpati berkalung, sehingga konteks wilayah menjadi penting ketika orang menyebut namanya.
Dalam percakapan harian, nama-nama itu sering berdempetan dengan kerabat lain seperti tekukur biasa (Spilopelia chinensis) atau perkutut (Geopelia striata). Karena mirip sekilas, warga memberi penanda praktis: “yang kalungnya tegas”, “yang suaranya bulat”, atau “yang betah di kebun nyiur dekat pantai”. Begitulah bahasa rakyat bekerja—tajam oleh pengalaman, lentur oleh kebiasaan.
Deruk berukuran sedang untuk seekor merpati: umumnya sekitar 28–32 cm dari paruh ke ujung ekor. Proporsi tubuh ramping, dada membulat, dengan ekor relatif panjang yang meruncing. Ketika hinggap, posturnya tampak tegak namun rileks, seakan tiap gerakan dihemat agar suara alam tetap memimpin.
Mahkota dan sisi kepala keabu-abuan lembut, sementara punggung cokelat kecokelatan. Dada bersemu merah jambu samar lalu memudar ke perut yang lebih pucat. Ciri paling ikonik terletak di tengkuk: setengah “kalung” hitam yang dipipihkan dengan tepi putih—kontras halus yang membuatnya terkesan berwibawa tanpa berlebihan.
Sayap menampilkan pola cokelat kusam dengan tepian bulu yang sedikit lebih pucat, memberi tekstur ketika disorot cahaya miring. Ekor bagian luar biasanya berujung putih sehingga tampak berkedip saat terbang. Paruh kehitaman, kaki kemerahan, dan iris yang bisa tampak oranye-kemerahan menambah nuansa hangat di wajahnya.
Suara menjadi kartu nama. Panggilan khasnya berupa serangkaian kuk yang bundar dan menurun—sering didengar lebih dulu dari balik rimbun. Ritme teratur, tidak terburu-buru, memberi sensasi ruang lapang di sekelilingnya.
Pembedaan dengan kerabat serupa memerlukan perhatian pada “kalung” yang relatif bersih tanpa bintik-bintik di sisi leher (berbeda dari tekukur bintik), rona dada yang lembut, serta preferensi habitat di kepulauan Indonesia tengah–timur. Kombinasi ini, plus suara, memudahkan identifikasi di lapangan.
Deruk menghuni bentang yang mosaik: tepi hutan sekunder, kebun campuran, pekarangan, savana pohon, hingga semak pesisir. Tidak terlalu menyukai hutan rapat, ia lebih betah di area terbuka-berpepohonan, di mana pandangan bebas dan tempat hinggap melimpah.
Wilayah persebarannya berpusat di Indonesia bagian tengah–timur (Wallacea) seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku, termasuk pulau-pulau kecil di sekitarnya. Lanskap kepulauan menyediakan banyak tepi habitat—tepat seperti yang disukainya.
Pada pagi dan sore, jalur terbangnya mengikuti garis-garis alami: tepian kebun, deret kelapa, pagar hidup, atau alur sungai kecil. Siang hari kerap dihabiskan berteduh di kanopi rendah, sesekali turun memungut biji-bijian dan buah kecil yang jatuh.
Kedekatan dengan permukiman ringan bukan masalah selama masih ada ruang hijau. Deruk menoleransi aktivitas manusia yang tidak agresif, sehingga sering menjadi tetangga yang pendiam namun setia mengisi sunyi.
Musim kawin di daerah tropis cenderung lentur, namun puncak aktivitas sering menyesuaikan musim berbunga dan berbuah tanaman liar. Jantan memperdengarkan suara berulang dari titik hinggap yang menonjol, lalu melakukan tampilan terbang singkat dengan kepakan tegas.
Sarang dibuat sederhana dari ranting-ranting tipis—rapuh jika dilihat, tetapi cukup untuk tugasnya. Lokasi bisa berupa percabangan pohon, rumpun bambu, hingga ambin bangunan yang tenang. Ketinggian bervariasi, umumnya beberapa meter di atas tanah.
Telur biasanya dua butir, putih bersih. Kedua induk berbagi tugas mengerami sekitar dua minggu. Anakan diberi “susu tembolok”—cairan kaya gizi dari induk—sebelum beralih ke pakan semi-padat. Masa tinggal di sarang singkat; belasan hari kemudian bulu sayap cukup kuat untuk percobaan terbang pertama.
Setelah menetas, pertumbuhan berlangsung cepat. Remaja belajar memilih tempat hinggap aman, mengikuti rute harian orang tuanya, dan menyempurnakan repertoar suara—hingga akhirnya mengambil peran penuh dalam orkes pagi kampung.
Deruk berkontribusi pada penyebaran biji. Buah kecil dan biji yang tertelan dapat terbawa ke lokasi baru, memperluas regenerasi tumbuhan semak dan pepohonan liar yang membentuk tepi habitat.
Aktivitas merumput biji gulma membantu menahan ledakan beberapa spesies tumbuhan pengganggu di lahan terbuka. Efeknya halus namun nyata bagi keseimbangan kebun campuran dan pekarangan.
Suara deruk sering menjadi penanda kualitas lingkungan. Jika panggilannya masih terdengar rutin, biasanya vegetasi tepi dan ruang hijau mikro masih berfungsi; ini menjadikannya semacam “indeks ketenangan” lokal.
Bagi pengamat burung dan fotografer, deruk adalah guru kesabaran. Kebiasaan hinggap di titik yang sama memberi kesempatan belajar etika mendekat tanpa mengganggu, sekaligus membuka jalan wisata pengamatan yang ramah lingkungan.
Di ranah budaya populer, kehadirannya memperkaya soundscape kampung—mengikat nostalgia, memperhalus ritme harian, dan menumbuhkan kedekatan manusia dengan lanskap alami di sekitar rumah.
Seperti merpati lain, deruk rentan ektoparasit (tungau, kutu bulu) yang dapat menurunkan kualitas bulu dan kenyamanan. Kebersihan tempat hinggap alami turut menentukan tingkat infestasi.
Penyakit umum pada kelompok merpati seperti trichomoniasis (canker), cacar burung (pox), dan infeksi paramyxovirus dapat terjadi, terutama di area dengan interaksi tinggi sesama columbidae. Populasi liar biasanya terbantu oleh sirkulasi udara baik dan paparan sinar matahari.
Ancaman non-biologis—perubahan habitat, penebangan tepi hutan, serta penangkapan berlebih—sering lebih memengaruhi kelangsungan populasi lokal ketimbang penyakit itu sendiri. Menjaga mosaik vegetasi adalah kunci.
Deruk kerap dimaknai sebagai lambang keteduhan: suara yang tidak memaksa, kehadiran yang tak menuntut, dan setia pada ritme alam. Dalam sejumlah tradisi Nusantara, burung berkalung ini menyulam memori rumah dan kampung—sebuah pengingat bahwa tenang bukan berarti diam, melainkan peka pada yang tumbuh di sekitar.
Dalam taksonomi burung, deruk berada di keluarga Columbidae—kelompok merpati dan dara yang tersebar luas di dunia. Kelompok ini dicirikan paruh lunak dengan cere, kemampuan menghasilkan “susu tembolok”, dan perilaku minum unik dengan menyedot air.
Genus Streptopelia menaungi “dove berkalung” di berbagai benua. Ciri khasnya adalah motif gelap di tengkuk atau sisi leher, dengan variasi pola antargatun yang membantu identifikasi.
Spesies Streptopelia bitorquata dikenal luas sebagai “island collared dove” dan merupakan penghuni kepulauan di Indonesia bagian tengah–timur. Status konservasinya secara global dilaporkan aman (umumnya “Risiko Rendah/Least Concern”), namun populasi lokal tetap bergantung pada mutu habitat dan tekanan perburuan.
Regnum: Animalia Phylum: Chordata Classis: Aves Ordo: Columbiformes Familia: Columbidae Genus: Streptopelia Spesies: Streptopelia bitorquata (Temminck, 1809)Klik di sini untuk melihat Streptopelia bitorquata pada Klasifikasi
Referensi
- BirdLife International & IUCN Red List. Profil spesies Streptopelia bitorquata. (akses umum)
- del Hoyo, J., Elliott, A., & Sargatal, J. (eds.). Handbook of the Birds of the World. Lynx Edicions – bagian Columbidae.
- Gill, F., Donsker, D., & Rasmussen, P. (eds). IOC World Bird List – Columbidae: Streptopelia.
- eBird/Clements Checklist. Taksonomi dan persebaran Streptopelia bitorquata.
Komentar
Posting Komentar