Gendola / Binahong (Basella alba)
Gendola atau binahong (Basella alba) merambat perlahan di pagar-pagar rumah, di pekarangan desa, atau bahkan di sela-sela kebun kota. Daunnya hijau segar, bentuknya sederhana, namun menyimpan kekuatan yang tak bisa dianggap remeh. Tanaman ini kerap disebut sebagai “tanaman seribu khasiat” karena begitu banyak manfaat yang melekat pada dirinya.
Tumbuhan merambat ini tumbuh tanpa banyak menuntut, seolah puas hanya dengan tempat sederhana untuk menjalar. Bagi banyak orang, kehadirannya kerap dianggap biasa, namun bagi mereka yang mengenalnya lebih dekat, binahong adalah anugerah hijau yang setia memberikan kebaikan—baik dalam masakan, kesehatan, maupun kehidupan sehari-hari.
Di berbagai daerah di Indonesia, gendola dikenal dengan beragam nama. Di Jawa, ia disebut “binahong” atau “gandola”, sementara di Sumatera lebih populer dengan nama “gendola”. Di Bali dan Lombok, tanaman ini disebut “binahong merah” bila batangnya berwarna kemerahan.
Keberagaman nama tersebut menandakan bahwa tanaman ini telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat Nusantara. Setiap daerah punya cara tersendiri untuk menyebutnya, namun semuanya merujuk pada tanaman yang sama: daun hijau yang merambat dan penuh khasiat.
Gendola adalah tanaman merambat dengan batang lunak, berwarna hijau hingga merah keunguan. Batangnya berbentuk bulat, berair, dan lentur, sehingga mudah melilit pagar atau tongkat yang menopangnya.
Daunnya berbentuk hati, berwarna hijau segar, dengan permukaan yang agak mengkilap. Ukurannya bervariasi, dari kecil hingga sebesar telapak tangan, tergantung usia dan kondisi tumbuhnya. Daunnya tebal, berdaging, dan terasa agak berlendir saat diremas.
Bunganya kecil, berwarna putih hingga merah muda pucat, tumbuh bergerombol pada malai yang muncul di ketiak daun. Meski ukurannya mungil, bunga binahong memberi sentuhan manis pada tanaman hijau ini.
Buahnya bulat kecil, berwarna hijau ketika muda, lalu berubah menjadi hitam mengkilap saat masak. Biji di dalam buah inilah yang menjadi salah satu cara tanaman ini melanjutkan kehidupannya.
Keseluruhan bentuk tanaman ini sederhana, namun justru kesederhanaannya itulah yang mempesona. Ia tidak membutuhkan banyak ruang, cukup sebatang kayu atau pagar, sudah cukup untuk memamerkan rimbunannya yang hijau segar.
Gendola tumbuh baik di daerah tropis yang hangat dan lembab, seperti Indonesia. Ia lebih menyukai tanah yang gembur, kaya bahan organik, dan tidak tergenang air. Meski begitu, tanaman ini tergolong mudah beradaptasi.
Lingkungan dengan sinar matahari cukup sangat disukainya, meski ia juga masih dapat tumbuh di bawah naungan parsial. Dalam kondisi yang baik, pertumbuhannya bisa sangat cepat, menjalar ke mana saja ia bisa menempel.
Gendola sering ditemukan di pekarangan rumah, kebun sayur, atau bahkan tumbuh liar di pinggir jalan dan ladang. Keberadaannya tidak sulit dicari karena hampir semua wilayah tropis menyediakan habitat yang cocok baginya.
Sifatnya yang tahan banting membuatnya dianggap sebagai tanaman yang “setia”—selama diberi sedikit perhatian, ia akan terus tumbuh dan memberi manfaat tanpa henti.
Gendola memulai hidupnya dari biji kecil yang jatuh ke tanah. Dalam waktu singkat, biji itu berkecambah menjadi tunas mungil dengan dua helai daun pertama. Dari sinilah perjalanan panjangnya dimulai.
Batang muda yang tumbuh mulai merambat, mencari sandaran untuk melilit. Pertumbuhannya cepat, dan dalam beberapa minggu sudah bisa mencapai panjang beberapa meter. Daunnya tumbuh lebat, menjadikan tanaman ini terlihat subur.
Selain dari biji, gendola juga mudah berkembang biak dari stek batang. Potongan batang yang ditancapkan ke tanah lembab akan cepat berakar dan tumbuh menjadi tanaman baru. Cara ini menjadikan binahong mudah dibudidayakan.
Siklus hidupnya bisa berlangsung lama selama tidak dicabut. Ia tumbuh terus-menerus, menghasilkan bunga, buah, dan biji, sekaligus tetap menyumbang daun-daun hijau yang siap dimanfaatkan kapan saja.
Gendola atau binahong dikenal luas sebagai tanaman obat. Daunnya sering direbus dan airnya diminum untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan, seperti luka, radang, atau kelelahan. Khasiat ini telah dipercaya sejak lama.
Selain daunnya, batang dan umbinya juga kerap digunakan dalam pengobatan tradisional. Kandungan saponin, flavonoid, dan alkaloid dalam tanaman ini dipercaya memberi efek penyembuhan yang alami.
Dalam dunia kuliner, daunnya bisa dimasak sebagai sayuran. Teksturnya lembut dan sedikit berlendir, mirip dengan daun kelor atau bayam, menjadikannya cocok sebagai campuran sup atau tumis.
Selain untuk manusia, gendola juga bermanfaat bagi lingkungan. Daunnya yang rimbun dapat menjadi penutup tanah alami yang membantu mencegah erosi dan menjaga kelembaban tanah.
Di era modern, tanaman ini bahkan mulai dikembangkan sebagai bahan baku herbal dalam industri farmasi dan suplemen kesehatan, menegaskan bahwa manfaatnya terus relevan hingga hari ini.
Meski cukup tangguh, gendola tidak sepenuhnya bebas dari ancaman hama. Ulat daun, kutu, dan belalang seringkali menjadi pengganggu yang merusak daunnya.
Penyakit akibat jamur juga bisa muncul, terutama bila lingkungan terlalu lembab dan sirkulasi udara kurang baik. Daun bisa menjadi bercak-bercak cokelat atau menguning.
Namun dengan perawatan sederhana seperti pemangkasan rutin, penyiraman teratur, dan menjaga kebersihan lahan, gendola dapat tumbuh sehat dan subur tanpa banyak gangguan.
Gendola sering dimaknai sebagai lambang kesetiaan dan keberlanjutan. Pertumbuhannya yang terus merambat dan memberi manfaat mencerminkan semangat hidup yang pantang menyerah dan rela berbagi kebaikan tanpa pamrih.
Dalam dunia botani, gendola atau binahong termasuk kelompok tanaman merambat dari keluarga Basellaceae. Berikut klasifikasinya:
Regnum: Plantae Divisio: Spermatophyta Classis: Magnoliopsida Ordo: Caryophyllales Familia: Basellaceae Genus: Basella Spesies: Basella albaKlik di sini untuk melihat Basella alba pada Klasifikasi
Referensi
- Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan Litbang Kehutanan.
- Departemen Kesehatan RI. (2008). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta.
- Wikipedia contributors. (2025). Basella alba. Retrieved from https://id.wikipedia.org/
Komentar
Posting Komentar