Anggrung Merah (Leea rubra)

Di antara hijaunya dedaunan hutan tropis, anggrung merah (Leea rubra) tampil seperti percikan api yang menyala. Warna batangnya yang kemerahan, daun muda bersemburat ungu, dan bunga kecil berwarna merah terang menjadikannya salah satu tanaman semak yang paling mempesona di kawasan Asia Tenggara.

Anggrung merah bukan hanya sekadar hiasan alam. Ia tumbuh liar di tepi jalan pedesaan, di pinggiran hutan, bahkan di sela-sela kebun, membawa sentuhan warna yang hidup. Sosoknya yang tegar di bawah sinar matahari dan di tengah kelembaban tropis menjadikan tanaman ini seolah simbol dari semangat bertahan.

Dalam dunia botani, Leea rubra dikenal sebagai semak menengah yang berasal dari famili Vitaceae — keluarga yang sama dengan tanaman anggur. Meski tidak menghasilkan buah yang populer seperti kerabatnya, anggrung merah memiliki daya tarik tersendiri karena perpaduan warna, bentuk, dan daya tahannya yang luar biasa.

---ooOoo---

Di berbagai daerah di Indonesia, anggrung merah memiliki nama yang beragam. Di Jawa, ia dikenal sebagai “Anggrung”, “Anggrung Merah”, atau kadang “Wungu Alas”. Di Sumatra, masyarakat menyebutnya “Kayu Anggrung” atau “Akar Merah”. Sementara di Kalimantan, tanaman ini juga dijuluki “Paku Merah” karena batangnya yang menyerupai batang paku muda berwarna kemerahan.

Nama-nama itu muncul dari ciri khas warna batang dan daunnya yang keunguan, serta kebiasaan tumbuhnya yang liar di sekitar hutan sekunder. Di beberapa daerah pedesaan, anggrung merah sering dianggap tanaman penanda musim karena kemunculan bunganya yang serentak menjelang musim hujan.

---ooOoo---

Keindahan anggrung merah membuatnya sering dijadikan tanaman hias taman dan pekarangan. Warna batangnya yang merah kontras dengan dedaunan hijau di sekitarnya, memberikan nuansa alami namun eksotis. Ia juga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman pembatas lahan atau penghias tepi jalan.

Selain fungsi estetika, beberapa masyarakat tradisional mengenal anggrung merah sebagai tanaman obat. Daun mudanya kerap digunakan untuk menurunkan panas dan mengatasi peradangan ringan. Getahnya juga dipercaya mampu mempercepat penyembuhan luka luar, meski penggunaannya tetap bersifat tradisional dan memerlukan kehati-hatian.

Dari sisi ekologi, anggrung merah berperan dalam menjaga kestabilan tanah di daerah miring. Akarnya yang kuat membantu menahan erosi, sementara kanopinya memberikan perlindungan bagi tanaman kecil di bawahnya. Serangga penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu pun banyak hinggap pada bunga merahnya yang kecil namun berkelompok padat.

Selain itu, anggrung merah juga memiliki nilai konservasi. Karena pertumbuhannya cepat dan tidak memerlukan perawatan rumit, tanaman ini kerap digunakan dalam program penghijauan di lahan-lahan kritis dan taman kota.

---ooOoo---

Anggrung merah merupakan semak atau perdu yang dapat tumbuh hingga setinggi 3 meter. Batangnya berwarna merah keunguan, kadang agak mengkilap bila terkena sinar matahari. Cabangnya banyak dan tumbuh menyebar, menciptakan bentuk yang lebat dan padat.

Daunnya majemuk, berhadapan, dan terdiri atas beberapa anak daun berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi halus. Warna daun muda kemerahan, sedangkan daun tua berubah menjadi hijau tua. Permukaan daun agak kasar namun tegas.

Bunga anggrung merah tumbuh dalam malai besar di ujung cabang. Bunganya kecil, berwarna merah terang hingga jingga, dan ketika mekar serempak menciptakan pemandangan yang menawan. Setelah bunga gugur, muncul buah kecil bulat berwarna ungu kehitaman.

Akar tanaman ini berserat kuat, menjalar dangkal di permukaan tanah. Kulit batangnya lentur namun kokoh, memungkinkan tanaman ini tumbuh di tempat berangin tanpa mudah patah.

---ooOoo---

Anggrung merah tumbuh subur di daerah beriklim tropis lembab dengan curah hujan tinggi. Ia dapat ditemukan dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Habitat aslinya mencakup hutan sekunder, pinggiran jalan hutan, dan lahan terbuka yang mendapat sinar matahari penuh.

Tanah gembur yang kaya bahan organik menjadi tempat tumbuh idealnya. Namun tanaman ini cukup adaptif, mampu hidup di tanah liat maupun berbatu asalkan drainasenya baik. Ia menyukai lingkungan yang lembab, tetapi tidak tergenang air.

Menariknya, anggrung merah mampu tumbuh di bawah naungan parsial, menjadikannya tanaman yang cocok untuk taman bertingkat atau area di bawah pepohonan besar. Karena itu, banyak penghobi tanaman hias memanfaatkannya sebagai lapisan bawah dalam taman tropis.

Kelebihan lain adalah daya tahan terhadap kekeringan sementara. Ketika musim kemarau datang, anggrung merah mampu menahan diri dengan mengurangi pertumbuhan daun baru hingga kondisi lembab kembali.

---ooOoo---

Anggrung merah berkembang biak melalui biji dan stek batang. Di alam liar, bijinya disebarkan oleh burung yang memakan buahnya. Biji yang jatuh ke tanah kemudian berkecambah dengan cepat ketika mendapat cukup kelembaban dan sinar matahari.

Pertumbuhannya tergolong cepat, terutama pada tanah yang subur dan terbuka. Dalam waktu beberapa bulan saja, tanaman muda sudah bisa mencapai tinggi lebih dari satu meter.

Pada fase awal, batangnya lunak dan berwarna merah muda, kemudian mengeras dan menjadi keunguan seiring usia. Daun muda muncul bertahap, dan ketika matang, tanaman mulai menghasilkan bunga dalam tandan besar di ujung cabang.

Dalam perawatan buatan, anggrung merah mudah diperbanyak melalui stek batang sepanjang 15–20 cm. Batang tersebut ditanam di tanah lembab dan teduh hingga berakar kuat. Tanaman ini tidak membutuhkan pupuk berlebih — cukup air dan cahaya matahari yang cukup.

Anggrung merah sering dianggap simbol semangat dan keteguhan. Warna merahnya melambangkan keberanian dan daya hidup, sementara kemampuannya tumbuh di berbagai kondisi mencerminkan ketahanan menghadapi perubahan. Dalam beberapa tradisi lokal, tanaman ini juga dipercaya membawa keberuntungan dan energi positif bila ditanam di pekarangan rumah.

---ooOoo---

Secara umum, anggrung merah tahan terhadap serangan hama. Namun beberapa jenis serangga daun seperti kutu putih dan ulat bisa menyerang pucuk muda. Jika dibiarkan, daun bisa berlubang dan pertumbuhan terganggu.

Penyakit jamur akar juga kadang muncul bila tanah terlalu lembab tanpa sirkulasi udara yang baik. Gejalanya tampak pada daun yang menguning dan batang bagian bawah yang mulai membusuk.

Untuk mencegahnya, penting menjaga kondisi tanah tetap gembur dan tidak becek. Pemangkasan cabang yang terlalu rapat juga membantu sirkulasi udara sehingga tanaman tumbuh lebih sehat.

---ooOoo---

Klasifikasi Ilmiah

Regnum: Plantae
Divisio: Spermatophyta
Classis: Magnoliopsida
Ordo: Vitales
Familia: Vitaceae
Genus: Leea
Species: Leea rubra
Klik di sini untuk melihat Leea rubra pada Klasifikasi
---ooOoo---

Referensi

  • Flora Malesiana. (2022). *Leea rubra Blume*. Leiden Botanical Series.
  • Kew Science. (2024). *Plants of the World Online: Leea rubra*.
  • Lim, T.K. (2012). *Edible Medicinal and Non-Medicinal Plants, Vol. 2*. Springer.
  • Heyne, K. (1987). *Tumbuhan Berguna Indonesia*. Yayasan Sarana Wana Jaya.

Komentar