Pari Lempung (Telatrygon biasa)
Pari lempung, atau yang secara ilmiah dikenal sebagai Telatrygon biasa, adalah penghuni laut dangkal yang kerap luput dari perhatian. Tubuhnya yang lebar dan pipih membuatnya tampak seperti bayangan yang menari di atas pasir laut. Ia meluncur dengan gerakan lembut, seolah menulis kisah sunyi di dasar perairan tropis Indonesia. Meski hidupnya tersembunyi di balik lumpur dan pasir, pari lempung menyimpan pesona yang diam-diam mengundang kekaguman.
Di antara ikan pari lainnya, ia bukan yang paling besar, bukan pula yang paling berwarna mencolok. Namun justru di situlah daya tariknya. Kesederhanaannya membuatnya tampak misterius. Saat sinar matahari menembus air dan menyentuh kulitnya yang keabu-abuan, tampaklah kilau lembut yang mengkilap—seperti lempung basah yang baru tersentuh hujan. Dunia bawah laut pun seolah menjadi panggung tari alami baginya.
Bagi nelayan di pesisir, pari lempung bukan sekadar makhluk laut. Ia adalah pertanda, teman lama, sekaligus sumber kehidupan. Saat mereka menebar jala di pagi hari, seringkali yang pertama kali tertangkap bukan ikan, melainkan sosok datar dengan ekor panjang—pari lempung yang datang menyapa.
Bagi sebagian masyarakat pesisir, pari lempung menjadi simbol ketenangan dan keseimbangan hidup. Gerakannya yang lembut di dasar laut sering diibaratkan sebagai kesabaran dalam menghadapi gelombang kehidupan. Ia tak menantang arus, melainkan menari bersamanya.
Di Nusantara, pari lempung dikenal dengan berbagai sebutan yang menggambarkan ciri dan tempat hidupnya. Di pesisir Jawa, sebagian nelayan menyebutnya “pari lempung” karena kebiasaannya bersembunyi di dasar laut berlumpur atau berpasir lembab. Di daerah Sulawesi, ikan ini kadang disebut “pari pasir” atau “pari lumpur”. Sementara di sebagian kawasan Kalimantan pesisir, ada pula yang menyebutnya “pari tipis”.
Nama-nama lokal ini bukan sekadar istilah. Ia adalah bagian dari kebijaksanaan tradisional masyarakat pesisir yang sejak lama mengenal perilaku setiap penghuni laut. Pari yang satu ini dikenal ramah, jarang melukai, dan lebih banyak menghindar daripada menyerang. Tak heran bila namanya sering dikaitkan dengan sifat tenang dan sabar.
Meski tak sepopuler pari manta yang megah, pari lempung tetap memiliki manfaat besar bagi manusia dan ekosistem. Dagingnya kerap dimanfaatkan sebagai bahan pangan di beberapa daerah pesisir. Rasanya gurih, dengan tekstur lembut menyerupai ayam laut. Sebagian masyarakat bahkan mengolahnya menjadi ikan asap tradisional yang tahan lama.
Selain itu, kulit pari lempung dapat diolah menjadi bahan kerajinan seperti dompet, sabuk, hingga aksesori. Teksturnya yang khas dan mengkilap alami menjadikannya bahan unik bagi pengrajin lokal. Beberapa daerah di Jawa Timur dan Sulawesi sudah lama memanfaatkan kulit pari untuk karya tangan bernilai seni tinggi.
Secara ekologis, pari lempung berperan penting menjaga keseimbangan rantai makanan laut. Ia membantu mengontrol populasi cacing laut, udang kecil, dan moluska yang hidup di dasar pasir. Tanpa kehadirannya, populasi organisme kecil ini bisa meningkat berlebihan dan mengganggu ekosistem.
Bagi para penyelam, kehadiran pari lempung juga menjadi daya tarik wisata bahari. Gerakannya yang lembut dan bentuk tubuhnya yang elegan kerap membuat penyelam berhenti sejenak, hanya untuk menyaksikan tarian senyapnya di antara pasir yang berputar.
Pari lempung memiliki tubuh pipih berbentuk seperti cakram lonjong. Lebarnya bisa mencapai sekitar 40 hingga 70 sentimeter, tergantung usia dan jenis kelamin. Bagian punggungnya berwarna abu-abu kecokelatan, sedangkan sisi bawahnya berwarna putih pucat.
Kulitnya terasa kasar, dengan bintik halus yang menyamarkan dirinya di dasar laut. Warna dan pola tubuh ini berfungsi sebagai kamuflase alami agar terhindar dari predator. Saat diam di antara pasir, ia hampir tak terlihat, seolah menyatu dengan alam sekitarnya.
Ekor pari lempung panjang dan ramping, menyerupai cambuk. Beberapa spesies memiliki duri kecil beracun di ujung ekornya sebagai alat pertahanan. Namun racunnya tak sekuat pari lain, dan jarang membahayakan manusia.
Matanya terletak di bagian atas kepala, memungkinkan ia mengintai dari balik pasir. Sementara mulut dan insangnya berada di sisi bawah tubuh, tempat ia menyedot mangsa kecil dari dasar laut.
Pari lempung hidup di perairan dangkal tropis dan subtropis, terutama di daerah muara, teluk, dan pesisir berlumpur. Ia menyukai lingkungan dengan dasar pasir lembab yang lunak, tempat ia bisa bersembunyi dan berburu dengan mudah.
Lautan Indonesia menjadi salah satu wilayah yang paling kaya akan populasi pari lempung. Dari pesisir utara Jawa hingga Selat Makassar, mereka ditemukan hidup berpasangan atau sendiri-sendiri, meluncur di air jernih maupun keruh.
Mereka bukan perenang cepat seperti tuna, tetapi lebih banyak meluncur perlahan di dasar laut, menggunakan sayap lebar untuk menekan air dan bergerak anggun. Saat ombak datang membawa arus hangat, pari lempung biasanya keluar dari persembunyiannya untuk mencari makan.
Lingkungan yang bersih dan tidak tercemar menjadi tempat ideal bagi mereka. Sayangnya, aktivitas manusia seperti penambangan pasir laut dan pencemaran pesisir mulai mengancam keberadaan mereka di beberapa wilayah.
Pari lempung berkembang biak secara vivipar—artinya, telur menetas di dalam tubuh induk betina dan anak-anaknya lahir hidup. Dalam sekali masa reproduksi, seekor induk dapat melahirkan beberapa anak berukuran kecil namun sudah lengkap organ tubuhnya.
Anak-anak pari lempung biasanya tumbuh di daerah yang lebih dangkal dan terlindung. Mereka belajar bersembunyi sejak kecil, mengubur diri di pasir untuk menghindari predator. Seiring waktu, tubuh mereka melebar dan gerakannya semakin anggun.
Pertumbuhannya terbilang lambat, dan umur hidupnya bisa mencapai belasan tahun. Faktor lingkungan seperti suhu air, ketersediaan makanan, dan kebersihan habitat sangat mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup mereka.
Sayangnya, sebagian besar pari lempung dewasa kini mulai terancam akibat penangkapan berlebih dan rusaknya habitat. Program konservasi yang berfokus pada pelestarian habitat pesisir menjadi kunci menjaga generasi baru mereka tetap bertahan.
Di alam liar, pari lempung jarang diserang penyakit berat. Namun di lingkungan pesisir yang tercemar, parasit seperti cacing laut dan protozoa bisa menyerang insangnya. Hal ini menyebabkan mereka sulit bernapas dan melemah.
Selain itu, luka akibat tersangkut jaring nelayan dapat menjadi pintu masuk infeksi jamur laut. Bila tidak pulih, luka itu bisa membusuk dan menghambat gerakan renangnya. Kondisi lingkungan yang tidak stabil juga dapat menyebabkan stres dan menurunkan sistem kekebalan tubuh.
Pencemaran logam berat dan limbah industri turut memperparah kondisi kesehatan pari lempung di beberapa kawasan, membuat populasinya menurun secara perlahan namun pasti.
Klasifikasi Ilmiah Pari Lempung
Regnum: Animalia Phylum: Chordata Classis: Chondrichthyes Ordo: Myliobatiformes Familia: Dasyatidae Genus: Telatrygon Spesies: Telatrygon biasaKlik di sini untuk melihat Telatrygon biasa pada Klasifikasi
Referensi
- Last, P.R., & White, W.T. (2016). Rays of the World. CSIRO Publishing.
- Froese, R. & Pauly, D. (Eds.) FishBase. (2024). Telatrygon biasa.
- Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia. (2023). Data Keanekaragaman Ikan Pari di Perairan Tropis.
Komentar
Posting Komentar