Trelep (Draco volans)

Di sela batang pohon hutan tropis, sesosok reptil kecil sering membuat orang tertegun ketika tiba-tiba meluncur dari satu pohon ke pohon lain. Gerakannya senyap, cepat, dan nyaris tanpa suara, seolah menantang hukum gravitasi. Keunikan cara berpindah inilah yang menjadikan hewan ini dikenal luas sebagai cicak yang mampu “terbang”, yaitu Draco volans.

Di Indonesia, Draco volans dikenal dengan beragam nama lokal yang mencerminkan kebiasaan dan penampilannya. Sebutan cekibar jawa banyak digunakan di wilayah Jawa, merujuk pada kemampuannya meluncur dari ketinggian ke tempat lain dengan selaput kulit di sisi tubuhnya.

Nama lain yang cukup populer adalah trelep dan cicak terbang. Istilah cicak terbang muncul dari kesan visual saat hewan ini membentangkan patagium dan melayang di udara. Ragam nama tersebut menunjukkan kekaguman masyarakat terhadap perilaku unik reptil kecil ini.

---ooOoo---

Keberadaan Draco volans memberikan manfaat ekologis sebagai pengendali populasi serangga. Makanannya didominasi oleh semut dan serangga kecil lain yang hidup di pepohonan, sehingga membantu menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Selain itu, cicak terbang juga memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Kemampuan meluncurnya menjadi bahan kajian penting dalam studi evolusi, biomekanika, dan adaptasi hewan arboreal. Dari hewan kecil ini, banyak pelajaran tentang efisiensi gerak dan pemanfaatan struktur tubuh dapat dipelajari.

---ooOoo---

Draco volans memiliki tubuh ramping dengan panjang relatif kecil, biasanya tidak lebih dari 20 sentimeter termasuk ekor. Ciri paling mencolok adalah adanya selaput kulit lebar yang terbentang di sisi tubuh, ditopang oleh tulang rusuk yang memanjang.

Warna tubuhnya bervariasi, mulai dari cokelat, abu-abu, hingga kehijauan, membantu kamuflase di batang pohon. Pada bagian leher terdapat lipatan kulit berwarna cerah yang dapat dikembangkan, berfungsi sebagai alat komunikasi visual, terutama saat musim kawin.

---ooOoo---

Habitat utama Draco volans adalah hutan tropis dataran rendah hingga perbukitan. Hewan ini sangat bergantung pada pepohonan tinggi sebagai tempat bertengger, mencari makan, dan meluncur ke pohon lain.

Lingkungan yang lembab dengan tutupan vegetasi rapat menjadi kondisi ideal baginya. Aktivitasnya lebih banyak terjadi di siang hari, saat cahaya matahari membantu mengatur suhu tubuh dan memudahkan pengamatan mangsa di sekitar batang pohon.

---ooOoo---

Perjalanan hidup Draco volans dimulai dari telur yang diletakkan di tanah atau di serasah daun dekat pangkal pohon. Telur-telur tersebut ditimbun tipis dengan tanah atau dedaunan untuk perlindungan alami dari predator.

Anakan yang menetas sudah memiliki bentuk tubuh menyerupai individu dewasa, meski ukuran dan selaput luncurnya masih kecil. Seiring pertumbuhan, kemampuan meluncur semakin sempurna, mendukung gaya hidup arboreal hingga mencapai kematangan seksual.

---ooOoo---

Draco volans dapat menjadi inang bagi parasit eksternal seperti tungau dan kutu reptil. Infeksi parasit ini dapat memengaruhi kondisi kulit dan menurunkan kebugaran jika tidak terkontrol oleh sistem alami.

Ancaman lain berasal dari kerusakan habitat akibat penebangan hutan dan alih fungsi lahan. Hilangnya pepohonan tinggi secara langsung mengurangi ruang hidup dan jalur luncur yang sangat penting bagi kelangsungan hidup cicak terbang.

---ooOoo---

Klasifikasi

Secara ilmiah, Draco volans termasuk dalam kelompok reptil yang memiliki adaptasi khusus untuk kehidupan arboreal. Struktur patagiumnya menjadikannya salah satu contoh paling menarik dari evolusi kemampuan meluncur pada kadal.

Klasifikasi Ilmiah

Regnum: Animalia
Phylum: Chordata
Classis: Reptilia
Ordo: Squamata
Familia: Agamidae
Genus: Draco
Spesies: Draco volans
Klik di sini untuk melihat Draco volans pada Klasifikasi
---ooOoo---

Referensi

  • Das, I. (2010). A Field Guide to the Reptiles of South-East Asia.
  • IUCN Red List of Threatened Species – Draco volans.
  • Smith, M. A. (1935). The Fauna of British India, Reptilia and Amphibia.

Komentar