Bajing Hitam (Callosciurus prevostii)

Di antara dahan-dahan tinggi hutan tropis, sesosok kecil melesat cepat, melompat dari cabang ke cabang dengan kelincahan luar biasa. Bulunya gelap pekat berpadu dengan garis putih bersih di sisi tubuh, menciptakan kontras yang mudah dikenali. Itulah bajing hitam, salah satu tupai paling mencolok di Asia Tenggara yang keberadaannya kerap menjadi penanda hutan yang masih hidup.

Callosciurus prevostii dikenal sebagai “bajing hitam”. Di beberapa daerah Sumatra dan Kalimantan, hewan ini juga disebut “tupai hitam” atau “bajing garis putih”, merujuk pada pola warna khas di tubuhnya.

Masyarakat lokal umumnya mengenal bajing ini sebagai penghuni tajuk pohon yang aktif di siang hari. Suaranya yang nyaring sering terdengar saat merasa terganggu atau ketika mempertahankan wilayahnya.

---ooOoo---

Bajing hitam memiliki panjang tubuh sekitar 20–25 cm dengan ekor hampir sama panjangnya. Bulu bagian atas tubuh umumnya hitam pekat atau cokelat sangat gelap, dengan garis putih atau krem di sisi tubuh. Bagian perut berwarna lebih terang.

Ekor lebat dan mengkilap digunakan untuk menjaga keseimbangan saat melompat. Matanya besar, telinganya kecil, dan kukunya tajam, sangat sesuai untuk kehidupan arboreal.

---ooOoo---

Callosciurus prevostii mendiami hutan hujan tropis dataran rendah hingga perbukitan, termasuk hutan sekunder dan kebun berpohon rapat. Hewan ini menyukai area yang lembab dan kaya pohon buah.

Sebarannya meliputi Sumatra, Kalimantan, dan wilayah Asia Tenggara lainnya. Bajing hitam jarang turun ke tanah, lebih banyak menghabiskan waktu di kanopi hutan.

---ooOoo---

Bajing hitam berkembang biak dengan melahirkan, biasanya 1–3 anak dalam satu kelahiran. Sarang dibuat dari daun dan ranting di percabangan pohon yang tinggi.

Anak-anaknya dirawat induk selama beberapa minggu hingga cukup kuat untuk menjelajah sendiri. Umur hidup di alam liar berkisar 8–12 tahun, tergantung kondisi habitat.

---ooOoo---

Secara ekologis, bajing hitam berperan penting sebagai penyebar biji. Kebiasaannya membawa dan menyimpan buah atau biji membantu regenerasi berbagai jenis pohon hutan.

Keberadaannya juga menjadi indikator kesehatan ekosistem. Populasi yang stabil biasanya menandakan ketersediaan pakan yang cukup serta tutupan hutan yang masih baik.

---ooOoo---

Di alam, bajing hitam dapat menjadi mangsa ular, burung pemangsa, dan kucing hutan. Parasit eksternal seperti kutu juga kadang ditemukan.

Ancaman utama berasal dari hilangnya habitat akibat penebangan hutan serta perburuan untuk perdagangan satwa. Penurunan tutupan pohon sangat memengaruhi kelangsungan hidupnya.

---ooOoo---

Klasifikasi

Secara ilmiah, bajing hitam diklasifikasikan sebagai berikut:

Regnum: Animalia  
Phylum: Chordata  
Classis: Mammalia  
Ordo: Rodentia
Familia: Sciuridae
Genus: Callosciurus
Spesies: Callosciurus prevostii
Klik di sini untuk melihat Callosciurus prevostii pada Klasifikasi
---ooOoo---

Referensi

  • IUCN Red List – Callosciurus prevostii
  • Nowak, R.M. (1999). Walker's Mammals of the World
  • Payne, J., Francis, C.M., Phillips, K. – Field Guide to the Mammals of Borneo
  • Burung & Mamalia Indonesia

Komentar