Cecurut / Celurut (Suncus murinus)

Suncus murinus, dikenal sebagai cecurut atau celurut, bergerak cepat di sela gelap rumah, gudang, dan kebun, sering kali hanya meninggalkan bunyi gesekan halus sebelum kembali menghilang. Tubuhnya kecil dengan moncong runcing, memberi kesan mirip tikus, meski sebenarnya berasal dari kelompok berbeda. Mamalia mungil ini memainkan peran tersembunyi sebagai pengendali alami serangga, sekaligus menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa terhadap lingkungan manusia.

Di Jawa dan Sunda, hewan ini umum disebut cecurut atau celurut. Di Sumatra dikenal sebagai curut, sementara di Kalimantan sering disebut curut tanah. Beberapa masyarakat menyebutnya tikus cecurut, meski secara ilmiah bukan termasuk tikus sejati.

Perbedaan sebutan tersebut muncul dari kemiripan bentuk dengan tikus rumah. Namun, moncong panjang dan perilaku aktifnya di malam hari menjadi ciri khas yang mudah dikenali.

---ooOoo---

Dibandingkan celurut Jawa (Crocidura maxi), Suncus murinus umumnya berukuran lebih besar dengan tubuh lebih kekar serta bau kelenjar yang jauh lebih menyengat. Celurut Jawa memiliki moncong lebih ramping, bulu lebih halus, dan cenderung terbatas pada habitat alami seperti hutan dan kebun yang relatif tenang, sementara cecurut lebih sering dijumpai di permukiman manusia. Selain itu, Crocidura maxi tidak memiliki aroma khas sekuat Suncus murinus, sehingga keberadaannya sering tidak langsung terdeteksi.

Suncus murinus memiliki panjang tubuh sekitar 10–15 cm dengan ekor lebih pendek dari tubuh. Bulu berwarna abu-abu hingga cokelat gelap, terasa kasar saat disentuh. Moncongnya panjang runcing, mata kecil, dan telinga relatif pendek.

Kelenjar bau di tubuhnya menghasilkan aroma menyengat, terutama saat terancam. Kaki pendek dengan cakar tajam membantunya menggali dan bergerak cepat di celah sempit.

---ooOoo---

Cecurut menghuni berbagai lingkungan, mulai dari permukiman, kebun, sawah, hingga tepi hutan. Area lembab dengan banyak serangga menjadi tempat favorit untuk mencari makan.

Kemampuannya hidup berdampingan dengan manusia membuat spesies ini tersebar luas di Asia hingga kawasan tropis lain melalui aktivitas manusia.

---ooOoo---

Aktivitas utama berlangsung pada malam hari. Siang dihabiskan bersembunyi di lubang tanah, tumpukan barang, atau celah bangunan. Metabolisme tinggi membuat cecurut harus makan hampir terus-menerus.

Betina dapat melahirkan beberapa kali dalam setahun, dengan jumlah anak 3–7 ekor per kelahiran. Anak tumbuh cepat dan segera mandiri, menyebabkan populasi dapat meningkat pesat pada kondisi lingkungan mendukung.

---ooOoo---

Cecurut berperan sebagai predator serangga, memangsa kecoa, jangkrik, larva, dan invertebrata kecil lainnya. Dengan pola makan ini, Suncus murinus membantu menekan populasi hama rumah tangga dan kebun secara alami.

Di alam, kehadirannya juga menjadi bagian rantai makanan bagi burung pemangsa dan ular kecil. Meski sering dianggap mengganggu karena baunya yang tajam, perannya dalam ekosistem tetap penting.

---ooOoo---

Suncus murinus dapat membawa parasit eksternal seperti kutu dan tungau. Beberapa patogen juga dapat ditularkan melalui kontak tidak langsung, meski risikonya relatif rendah dibanding tikus rumah.

Konflik dengan manusia biasanya terjadi karena bau tubuhnya yang kuat atau kebiasaan masuk rumah. Kebersihan lingkungan membantu mengurangi kehadirannya.

---ooOoo---

Klasifikasi

Cecurut termasuk famili Soricidae, kelompok mamalia kecil pemakan serangga yang memiliki metabolisme sangat tinggi.

Regnum: Animalia
Phylum: Chordata
Classis: Mammalia
Ordo: Eulipotyphla
Familia: Soricidae
Genus: Suncus
Species: Suncus murinus
Klik di sini untuk melihat Suncus murinus pada Klasifikasi
---ooOoo---

Referensi

  • IUCN Red List of Threatened Species. Suncus murinus.
  • Animal Diversity Web. Suncus murinus.
  • Nowak, R.M. Walker's Mammals of the World.
  • Smithsonian National Museum of Natural History.

Komentar