Celurut Jawa (Crocidura maxi)

Di balik serasah daun, celah tanah, dan sudut lembab kebun, bergerak cepat tubuh mungil dengan moncong panjang dan mata kecil. Keberadaannya jarang disadari, namun perannya dalam mengendalikan populasi serangga sangat berarti. Satwa kecil ini adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem darat Jawa.

Crocidura maxi dikenal sebagai celurut Jawa. Di berbagai daerah, hewan ini juga kerap disebut tikus tanah, curut, atau celurut, meskipun secara ilmiah tidak termasuk kelompok tikus.

Penyebutan lokal tersebut biasanya muncul karena kemiripan bentuk tubuh dengan tikus kecil, padahal celurut memiliki karakter biologis yang berbeda, terutama pada bentuk moncong dan kebiasaan makannya.

---ooOoo---

Celurut Jawa memiliki tubuh kecil ramping dengan panjang sekitar 7–10 cm, belum termasuk ekor. Moncongnya panjang dan runcing, telinganya kecil, serta matanya sangat kecil. Bulu tubuh berwarna abu-abu kecokelatan hingga gelap, terasa halus saat disentuh.

Ekor relatif pendek dibanding panjang tubuh. Kakinya kecil namun gesit, memungkinkan pergerakan cepat di permukaan tanah dan di bawah serasah daun.

---ooOoo---

Crocidura maxi hidup di dataran rendah hingga perbukitan di Pulau Jawa. Habitatnya meliputi hutan sekunder, kebun, sawah, hingga pekarangan yang masih memiliki penutup tanah alami.

Lingkungan favoritnya adalah area lembab dengan banyak serangga, seperti bawah semak, tumpukan daun kering, dan pinggiran saluran air.

---ooOoo---

Celurut Jawa berkembang biak sepanjang tahun dengan puncak reproduksi pada musim hujan. Betina melahirkan 2–5 anak dalam satu kali kelahiran setelah masa kebuntingan sekitar satu bulan.

Anak celurut tumbuh cepat dan sudah mandiri dalam waktu beberapa minggu. Umur hidupnya relatif pendek, rata-rata hanya 1–2 tahun di alam liar.

---ooOoo---

Celurut Jawa berperan sebagai predator serangga kecil, larva, dan invertebrata tanah. Aktivitas ini membantu menekan populasi hama alami di kebun dan lahan pertanian.

Selain itu, keberadaannya menjadi indikator kesehatan lingkungan. Populasi yang stabil menandakan tanah masih mendukung kehidupan mikrofauna dan memiliki keseimbangan ekologi yang baik.

---ooOoo---

Celurut Jawa tidak memiliki hama khusus, namun rentan terhadap predator alami seperti ular, burung, dan kucing liar. Aktivitas manusia juga menjadi ancaman tidak langsung melalui hilangnya habitat.

Parasit eksternal seperti kutu dan tungau kadang ditemukan, terutama pada individu yang hidup di lingkungan kurang bersih atau terfragmentasi.

---ooOoo---

Klasifikasi

Secara ilmiah, celurut Jawa diklasifikasikan sebagai berikut:

Regnum: Animalia
Phylum: Chordata
Classis: Mammalia
Ordo: Eulipotyphla
Familia: Soricidae
Genus: Crocidura
Species: Crocidura maxi
Klik di sini untuk melihat Crocidura maxi pada Klasifikasi
---ooOoo---

Referensi

  • IUCN Red List – Crocidura maxi
  • Mammals of Indonesia
  • Wilson & Reeder – Mammal Species of the World

Komentar