Kepuh (Sterculia foetida)
Berdiri mencolok dengan batang besar dan tajuk melebar, pohon ini kerap dijumpai di tepi hutan, kawasan kering, hingga sekitar permukiman lama. Saat musim tertentu, daunnya luruh hampir seluruhnya, menyisakan cabang-cabang kokoh yang tampak dramatis. Di balik penampilannya yang sederhana, tersimpan sejarah panjang pemanfaatan serta peran ekologis penting.
Sterculia foetida dikenal luas sebagai kepuh. Di beberapa daerah, tanaman ini juga disebut kepoh, kelumpang, atau kayu busuk, merujuk pada aroma khas bijinya saat masak.
Di Jawa tetap populer dengan nama kepuh, sementara di Bali dikenal sebagai kepuh atau kepo. Ragam sebutan lokal ini muncul dari pengalaman masyarakat terhadap bau biji dan kebiasaan pohon ini tumbuh di lahan terbuka.
Kepuh dimanfaatkan secara tradisional sebagai pohon peneduh dan sumber kayu ringan. Bijinya mengandung minyak yang dahulu digunakan sebagai bahan lampu dan pelumas sederhana, sementara kulit batangnya kadang dipakai sebagai obat luar.
Secara ekologis, pohon ini menyediakan tempat bersarang burung dan sumber pakan bagi satwa melalui bunga serta bijinya. Tajuknya yang lebar membantu menjaga kelembaban tanah di lingkungan kering.
Pohon dapat tumbuh hingga 30–40 meter dengan batang besar dan lurus. Kulit batang berwarna abu-abu kecokelatan, relatif halus saat muda dan menjadi kasar seiring usia.
Daunnya besar berbentuk menjari dengan 5–7 lobus. Bunganya kecil berwarna merah keunguan dengan aroma menyengat. Buahnya berbentuk folikel berwarna merah saat masak, berisi biji hitam mengkilap yang berbau khas.
Habitat alaminya meliputi hutan musim, savana, hingga kawasan pesisir dan lahan kering terbuka. Kepuh mampu tumbuh pada tanah kurang subur dan tahan terhadap musim kemarau.
Lingkungan favoritnya berada di dataran rendah hingga perbukitan dengan paparan matahari penuh. Ketahanannya menjadikan pohon ini sering dijumpai sebagai tanaman peneduh di jalan atau desa tua.
Perjalanan hidupnya dimulai dari biji yang berkecambah pada awal musim hujan. Bibit muda tumbuh relatif cepat bila mendapat cahaya cukup.
Perkembangbiakan berlangsung secara generatif melalui biji. Pohon dewasa berbunga dan berbuah musiman, memungkinkan regenerasi alami di sekitar induknya.
Daun kepuh dapat diserang ulat pemakan daun, sementara batang tua kadang menjadi sasaran serangga penggerek. Namun secara umum pohon ini cukup tahan terhadap gangguan serius.
Penyakit jamur akar dapat muncul pada tanah terlalu tergenang, tetapi di habitat alaminya kepuh dikenal adaptif dan mampu bertahan di kondisi lingkungan yang keras.
Klasifikasi
Secara ilmiah, kepuh (Sterculia foetida) termasuk pohon tropis dari famili Malvaceae yang dikenal berukuran besar, tahan kering, dan multifungsi bagi manusia maupun satwa.
Klasifikasi Ilmiah
Regnum: Plantae Divisio: Spermatophyta Classis: Magnoliopsida Ordo: Malvales Familia: Malvaceae Genus: Sterculia Species: Sterculia foetidaKlik di sini untuk melihat Sterculia foetida pada Klasifikasi
Referensi
- PROSEA – Plant Resources of South-East Asia.
- Flora of Malesiana. Sterculia foetida.
Komentar
Posting Komentar