Tuwur (Eudynamys scolopaceus)

Eudynamys scolopaceus, dikenal luas sebagai tuwur, menghadirkan suara khas yang menggema dari pepohonan tinggi hingga sudut-sudut kampung. Lengkingannya yang berulang sering terdengar menjelang subuh atau saat senja, menjadi penanda alami pergantian waktu. Burung dari keluarga kukuk ini bukan hanya terkenal karena suaranya, tetapi juga karena perilaku hidupnya yang unik dan cara berkembang biak yang berbeda dari kebanyakan burung.

Di Pulau Jawa, burung ini populer dengan sebutan tuwur atau tuhu. Masyarakat Sunda mengenalnya sebagai tuwung, sementara di beberapa daerah Sumatra disebut kedasih hitam. Di Bali dikenal sebagai kokokan alas, merujuk pada kebiasaannya bersuara dari balik rimbun pepohonan.

Ragam nama lokal tersebut lahir dari pengamatan terhadap suara dan perilaku alaminya. Di banyak budaya, tuwur bahkan dikaitkan dengan pertanda musim atau perubahan cuaca, menunjukkan betapa dekatnya burung ini dengan kehidupan masyarakat sekitar hutan dan kebun.

---ooOoo---

Tuwur merupakan burung berukuran sedang hingga besar, dengan panjang tubuh sekitar 40–45 cm. Jantan dewasa umumnya berwarna hitam mengkilap dengan semburat kehijauan, paruh pucat kehijauan, serta mata merah mencolok. Penampilan ini memberi kesan elegan sekaligus misterius.

Betina memiliki corak berbeda, didominasi cokelat dengan garis-garis terang pada dada dan perut. Ekor panjang dan sayap lebar memudahkannya meluncur di antara tajuk pohon, sementara kaki yang kuat membantu bertengger stabil di cabang tinggi.

---ooOoo---

Eudynamys scolopaceus menyukai kawasan berhutan, kebun campuran, taman kota, hingga pekarangan dengan pohon besar. Lingkungan yang menyediakan tempat bertengger tinggi serta sumber pakan melimpah menjadi pilihan utama untuk beraktivitas sehari-hari.

Adaptasinya terhadap area permukiman membuat tuwur sering terdengar bahkan di kota-kota besar, selama masih tersedia pohon-pohon tua. Keberadaan ruang hijau menjadi kunci kelangsungan hidup spesies ini.

---ooOoo---

Tuwur dikenal sebagai burung parasit sarang. Telurnya diletakkan di sarang burung lain, seperti gagak atau burung jalak, lalu anaknya dibesarkan oleh induk inang tanpa disadari. Strategi ini memungkinkan tuwur menghemat energi untuk membangun sarang sendiri.

Anak tuwur tumbuh bersama anak burung inang hingga cukup kuat untuk terbang. Setelah dewasa, burung muda akan menyebar mencari wilayah baru, melanjutkan siklus hidup yang telah berlangsung ribuan tahun.

---ooOoo---

Meski jarang dibicarakan sebagai burung “bermanfaat” secara langsung, tuwur berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Serangga besar, ulat, dan buah-buahan liar menjadi bagian dari makanannya, membantu mengontrol populasi hama alami di lingkungan terbuka dan hutan sekunder.

Kehadirannya juga menjadi indikator kesehatan habitat. Suara tuwur yang masih sering terdengar biasanya menandakan pepohonan tinggi dan ruang hijau masih tersedia. Bagi sebagian orang, lengkingannya bahkan menjadi bagian dari warisan suara alam yang mempesona dan menenangkan.

---ooOoo---

Di alam, tuwur dapat terserang parasit eksternal seperti tungau dan kutu, terutama pada individu muda. Penyakit saluran pernapasan juga dapat muncul pada populasi yang hidup dekat unggas domestik.

Ancaman lain datang dari hilangnya habitat, penebangan pohon besar, serta perburuan liar. Meski saat ini statusnya relatif aman, tekanan lingkungan tetap perlu diperhatikan untuk menjaga populasinya tetap stabil.

---ooOoo---

Klasifikasi

Tuwur merupakan anggota famili Cuculidae, kelompok burung kukuk yang dikenal dengan perilaku parasit sarang dan suara khasnya.

Regnum: Animalia
Phylum: Chordata
Classis: Aves
Ordo: Cuculiformes
Familia: Cuculidae
Genus: Eudynamys
Species: Eudynamys scolopaceus
Klik di sini untuk melihat Eudynamys scolopaceus pada Klasifikasi
---ooOoo---

Referensi

  • BirdLife International. Eudynamys scolopaceus species factsheet.
  • IUCN Red List of Threatened Species. Eudynamys scolopaceus.
  • HBW Alive – Handbook of the Birds of the World.
  • Robson, C. (2015). Birds of Southeast Asia. Princeton University Press.

Komentar