Teripang Pasir (Holothuria scabra)
Di dasar perairan dangkal yang berpasir, tersembunyi di balik hamparan lamun dan karang mati, seekor hewan lunak berjalan perlahan merayapi dasar laut. Tubuhnya yang memanjang bergerak dengan ritme lambat, seolah tidak terburu-buru dalam menjalani kehidupannya di bawah ombak. Ia adalah salah satu makhluk laut yang mungkin terlihat biasa saja, namun menyimpan nilai ekonomi dan ekologis yang luar biasa penting bagi ekosistem pesisir dan kehidupan manusia.
Hewan berkulit lunak ini termasuk dalam kelompok timun laut atau teripang, yang dikenal sebagai pembersih alami dasar perairan. Dengan gerakannya yang lambat dan tenang, ia menyaring pasir dan lumpur, memakan partikel-partikel organik yang terkandung di dalamnya. Aktivitas sederhana ini ternyata memiliki dampak besar bagi kesehatan ekosistem laut, menjadikannya salah satu spesies kunci dalam menjaga keseimbangan lingkungan di perairan tropis yang hangat.
Di Indonesia, hewan ini dikenal dengan berbagai nama lokal yang tersebar di seluruh kepulauan. Masyarakat pesisir Jawa menyebutnya teripang pasir atau teripang hitam, merujuk pada warna tubuhnya yang gelap dan habitatnya yang berada di dasar berpasir. Di Sulawesi, ia dikenal sebagai batara atau gamat pasir, sementara di Maluku dan Papua sering disebut loli atau loli pasir. Sebutan gamat sendiri telah menjadi nama umum bagi berbagai jenis teripang di Indonesia, yang telah lama dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional dan komoditas ekspor bernilai tinggi.
Peran ekologis hewan ini dalam ekosistem laut sangatlah fundamental. Sebagai detritivora yang aktif, ia berfungsi seperti penyedot debu alami yang membersihkan dasar perairan dari sisa-sisa organik yang menumpuk. Dalam proses makannya, ia membalik-balik lapisan sedimen, mengoksidasi lapisan dasar yang sebelumnya miskin oksigen, dan mendaur ulang nutrisi yang terperangkap. Aktivitas bioturbasi ini sangat penting untuk menjaga kesehatan padang lamun dan terumbu karang di sekitarnya, karena siklus nutrisi yang lancar akan mendukung pertumbuhan berbagai organisme laut lainnya.
Nilai ekonomis teripang pasir tidak dapat dipandang sebelah mata. Dagingnya yang kaya protein dan kolagen telah menjadi komoditas ekspor utama Indonesia ke pasar Asia Timur, terutama Tiongkok, Hongkong, dan Korea Selatan. Teripang kering atau yang dikenal dengan sebutan beche-de-mer memiliki harga jual yang sangat tinggi di pasar internasional. Selain itu, ekstrak dari hewan ini juga telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit, dan kini mulai dikembangkan dalam industri farmasi modern sebagai sumber senyawa bioaktif yang potensial untuk pengobatan luka, anti-inflamasi, hingga antikanker.
Secara fisik, hewan ini memiliki tubuh yang memanjang berbentuk silinder dengan panjang yang dapat mencapai 30 hingga 40 sentimeter pada ukuran dewasa. Tubuhnya lunak dan fleksibel, ditutupi oleh kulit yang tebal dan berkerut dengan tekstur kasar seperti amplas karena adanya struktur kecil yang disebut papila. Warna tubuhnya bervariasi dari cokelat kehitaman hingga abu-abu gelap dengan bercak-bercak terang yang tidak beraturan, membantunya berkamuflase di dasar perairan yang berpasir. Bagian perut atau sisi ventral berwarna lebih terang dan memiliki kaki-kaki tabung atau tube feet yang digunakan untuk bergerak perlahan di dasar laut.
Di bagian ujung anterior atau depan tubuhnya, terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel mulut berjumlah sekitar 20 buah yang berbentuk seperti perisai kecil, berfungsi untuk mengambil pasir dan partikel makanan. Tentakel ini berwarna kehitaman dan dapat ditarik masuk jika merasa terancam. Ujung posterior atau belakang tubuhnya merupakan anus yang juga berfungsi sebagai organ respirasi melalui struktur yang disebut pohon respirasi. Kulit bagian dalamnya mengandung spikula atau lempeng-lempeng kapur kecil yang menjadi ciri identifikasi penting untuk membedakannya dengan spesies teripang lainnya. Hewan ini memiliki kemampuan autotomi, yaitu memutuskan sebagian tubuhnya untuk mengelabui predator, dan memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa untuk menumbuhkan kembali bagian tubuh yang hilang.
Hewan ini memiliki persebaran yang sangat luas di perairan tropis Indo-Pasifik, termasuk seluruh wilayah perairan Indonesia. Ia dapat ditemukan di perairan dangkal dengan kedalaman hingga 20 meter, terutama di ekosistem padang lamun, daerah berpasir di sekitar terumbu karang, serta kawasan mangrove yang memiliki substrat pasir berlumpur. Habitat yang disukainya adalah daerah dengan arus air yang relatif tenang dan ketersediaan bahan organik yang melimpah di dalam sedimen.
Kondisi lingkungan yang optimal untuk pertumbuhannya adalah perairan dengan suhu antara 25 hingga 30 derajat Celcius, salinitas sekitar 28 hingga 35 ppt, serta kadar oksigen terlarut yang tinggi. Ia sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air, terutama pencemaran organik yang berlebihan dan penurunan salinitas secara drastis akibat masuknya air tawar dalam jumlah besar. Hewan ini juga memiliki toleransi yang rendah terhadap paparan sinar matahari langsung, sehingga pada siang hari ia cenderung bersembunyi di balik lamun, batu karang, atau terkubur sebagian di dalam pasir untuk menghindari predator dan radiasi ultraviolet.
Siklus hidup hewan ini dimulai dengan pemijahan yang umumnya terjadi pada musim tertentu, biasanya terkait dengan perubahan suhu air dan fase bulan. Teripang pasir memiliki jenis kelamin yang terpisah atau dioecious, dengan pembuahan yang terjadi di kolom air setelah jantan dan betina melepaskan gamet secara bersamaan. Pemijahan massal ini sering kali dipicu oleh faktor lingkungan seperti pasang bulan purnama atau perubahan suhu air yang signifikan, dan menghasilkan jutaan telur yang akan dibuahi di dalam air.
Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi larva auricularia yang hidup sebagai plankton dalam kolom air selama beberapa minggu. Larva ini kemudian bermetamorfosis menjadi larva doliolaria, sebelum akhirnya menetap di dasar perairan dan berubah menjadi teripang muda atau juvenil yang sudah memiliki bentuk tubuh menyerupai induknya. Pertumbuhan teripang pasir tergolong lambat, mencapai ukuran dewasa yang siap bereproduksi setelah berusia sekitar 1 hingga 2 tahun. Di alam liar, hewan ini dapat hidup hingga 8 hingga 10 tahun, meskipun tekanan eksploitasi yang tinggi sering kali membuatnya tidak sempat mencapai usia tua.
Sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi, teripang pasir menghadapi ancaman yang sangat serius akibat eksploitasi berlebihan atau overfishing. Tingginya permintaan pasar internasional telah mendorong penangkapan yang tidak terkendali di berbagai wilayah perairan Indonesia, menyebabkan penurunan populasi drastis di banyak lokasi yang sebelumnya merupakan habitat utama. Metode penangkapan yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan kompresor atau penyelaman dengan alat berat, juga merusak habitat dasar perairan dan membunuh individu-individu yang tidak sempat ditangkap.
Selain eksploitasi berlebihan, degradasi habitat akibat aktivitas manusia juga menjadi ancaman serius. Konversi hutan mangrove menjadi tambak, pencemaran perairan dari limbah domestik dan industri, serta sedimentasi akibat penebangan hutan di daerah aliran sungai, semuanya berkontribusi terhadap penurunan kualitas habitat yang dibutuhkan oleh teripang pasir. Perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu air laut dan pengasaman laut juga mengancam kelangsungan hidup spesies ini, terutama pada tahap larva yang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Upaya konservasi yang dilakukan meliputi penetapan kuota tangkap, pengembangan budidaya teripang untuk mengurangi tekanan pada populasi liar, penetapan kawasan konservasi perairan, serta rehabilitasi habitat pesisir seperti padang lamun dan mangrove yang menjadi tempat hidup dan berkembang biaknya spesies ini.
Klasifikasi
Hewan ini termasuk dalam famili Holothuriidae, yaitu kelompok timun laut atau teripang yang memiliki tubuh lunak dengan tentakel mulut berbentuk perisai. Famili ini merupakan salah satu kelompok teripang yang paling umum ditemukan di perairan tropis dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Berikut adalah klasifikasi ilmiah dari hewan ini:
Regnum: Animalia Phylum: Echinodermata Classis: Holothuroidea Ordo: Holothuriida Familia: Holothuriidae Genus: Holothuria Spesies: Holothuria scabraKlik di sini untuk melihat Holothuria scabra pada Klasifikasi
Referensi
- Purcell, S.W., Samyn, Y., & Conand, C. (2012). Commercially Important Sea Cucumbers of the World. Roma: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
- Conand, C. (2019). Holothuria scabra. The IUCN Red List of Threatened Species. Gland: IUCN.
Komentar
Posting Komentar