Manyung Utik (Arius thalassinus)
Di dasar perairan berlumpur muara dan pesisir Asia Tenggara, hidup sekelompok ikan berkumis yang suaranya sering terdengar menembus air saat malam hari. Suara mendengung atau menggeram itulah yang memberinya nama populer dalam bahasa Inggris, "sea catfish". Ikan ini memiliki kemampuan unik untuk mengeluarkan bunyi dengan menggesekkan bagian tulang siripnya, sebuah adaptasi menarik untuk berkomunikasi di lingkungan keruh.
Sebagai anggota famili Ariidae, ikan ini memiliki peran ekologis sebagai pemakan dasar yang membantu membersihkan sisa-sisa organik di perairan estuari. Nilai ekonominya cukup tinggi, terutama di pasar tradisional Indonesia, meskipun masih sering dianggap sebagai ikan sembarangan. Nama ilmiahnya, Arius thalassinus, mengacu pada habitatnya yang khas di laut (thalassa dalam bahasa Yunani) dengan warna tubuh keperakan yang membedakannya dari kerabat lain.
Masyarakat pesisir Jawa, Sumatra, dan Kalimantan lebih mengenalnya dengan sebutan manyung utik atau manyung laut. Istilah "utik" merujuk pada ukurannya yang relatif lebih kecil dibanding manyung jambal (Arius maculatus) yang hidup di perairan tawar. Di beberapa daerah, ikan ini juga disebut manyung pasir atau manyung tembaga karena kilau warna tubuhnya yang mempesona saat terkena cahaya.
Manyung utik memiliki nilai manfaat yang cukup beragam bagi masyarakat. Dagingnya yang putih dan gurih sering diolah menjadi pepes, pindang, atau kerupuk kulit khas daerah pesisir. Ikan ini juga menjadi bahan baku utama pembuatan terasi di beberapa sentra industri rumahan karena kandungan proteinnya yang tinggi. Kulitnya yang tebal dan kuat dimanfaatkan sebagai bahan pengeras anyaman bambu atau tali tradisional.
Dalam konteks ekologi, Arius thalassinus berperan sebagai indikator kesehatan ekosistem muara. Keberadaannya yang melimpah menandakan rantai makanan dasar masih berjalan baik, karena ia memangsa krustasea kecil, cacing, dan moluska. Nelayan tradisional sering menjadikan manyung utik sebagai target tangkapan sampingan (bycatch) yang bernilai tambah, terutama saat musim barat ketika ikan ini naik ke perairan dangkal untuk memijah.
Ciri fisik paling khas dari manyung utik adalah keberadaan tiga pasang sungut (barbel) di sekitar mulutnya. Sepasang sungut di rahang atas sangat panjang, bisa mencapai dua kali panjang kepala, berfungsi sebagai alat peraba di dasar berlumpur yang gelap. Tubuhnya memanjang, tidak bersisik, dengan warna abu-abu kebiruan hingga keperakan di bagian punggung dan putih mengkilap di perut. Sirip punggung dan sirip dada masing-masing memiliki duri keras yang tajam dan mengandung bisa ringan, sehingga perlu hati-hati saat menangani.
Panjang total manyung utik dewasa rata-rata 30–45 cm, tetapi ada yang mencapai 60 cm dengan berat hingga 2 kg. Matanya relatif kecil dan tertutup lapisan lemak tipis (membran niktitans). Ciri lain yang membedakan dengan manyung jambal adalah tidak adanya bintik-bintik gelap di tubuhnya, serta gurat sisi (linea lateralis) yang lebih jelas mengkilap. Ikan jantan memiliki sirip anal yang lebih panjang dibanding betina, suatu adaptasi untuk mengerami telur di dalam mulut.
Manyung utik mendiami perairan pantai, muara sungai, dan laguna yang dasarnya berlumpur atau berpasir, pada kedalaman 10–50 meter. Mereka toleran terhadap perubahan salinitas yang lebar (euryhaline), sehingga sering masuk ke sungai bagian hilir hingga zona air payau. Di Indonesia, penyebarannya meliputi pesisir barat Sumatra, selatan Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, terutama di kawasan yang mendapat aliran sungai besar.
Lingkungan favorit manyung utik adalah perairan tenang dengan arus lambat dan kadar bahan organik tinggi. Mereka sering berkumpul di sekitar muara saat musim hujan karena melimpahnya makanan yang terbawa aliran sungai. Siang hari, ikan ini bersembunyi di lubang-lubang dasar atau di sela akar bakau, kemudian aktif mencari makan pada senja hingga malam hari. Pencemaran limbah industri dan penangkapan dengan racun atau setrum menjadi ancaman serius bagi populasinya di alam.
Siklus hidup manyung utik dimulai dengan perilaku pemijahan yang unik. Ikan jantan dan betina membentuk pasangan monogami sementara, lalu betina melepaskan telur yang langsung dibuahi. Jantan akan mengumpulkan telur-telur tersebut ke dalam mulutnya untuk dierami selama kurang lebih 30–45 hari. Selama masa pengeraman, jantan tidak makan dan hanya sesekali membuka mulut untuk mengalirkan air segar ke telur.
Setelah menetas, larva ikan masih tinggal dalam mulut jantan hingga kuning telurnya habis dan mampu berenang bebas, biasanya sekitar 7–10 hari. Manyung utik mencapai kematangan seksual pada umur 2–3 tahun dengan panjang sekitar 25 cm. Pemijahan terjadi sepanjang tahun tetapi memuncak pada musim pancaroba (April–Mei dan Oktober–November). Umur maksimal yang tercatat di alam liar adalah 8–10 tahun, sementara di penangkaran bisa mencapai 12 tahun dengan perawatan yang baik.
Sebagai ikan dasar, manyung utik rentan terhadap serangan parasit, terutama dari kelompok cacing insang (Dactylogyrus) dan krustasea parasit (Lernaea). Infeksi parasit ini menyebabkan insang pucat, napas tersengal, dan pertumbuhan terhambat. Penyakit bakterial seperti vibriosis sering muncul saat kualitas air memburuk, ditandai dengan luka merah di kulit dan sirip keropos. Di tambak, serangan jamur (Saprolegnia) pada telur yang gagal dierami jantan juga menjadi masalah.
Hama alami yang sering mengganggu manyung utik di alam adalah kepiting bakau yang memangsa telur atau anak ikan yang lepas dari mulut jantan. Ikan predator seperti kerapu dan kakap putih juga menjadikan manyung remaja sebagai mangsa. Di lingkungan budidaya, gangguan terbesar datang dari burung pecuk (cormoran) dan ular air. Namun, ancaman paling serius tetap dari aktivitas manusia: penangkapan berlebihan dengan pukat harimau (trawl) yang merusak dasar perairan dan mengganggu siklus reproduksi.
Klasifikasi
Manyung utik termasuk dalam famili Ariidae (ikan manyung atau sea catfish) yang tersebar luas di perairan tropis dan subtropis. Famili ini dikenal dengan ciri khas mengerami telur di dalam mulut (mouthbrooding) yang dilakukan oleh pejantan. Dalam taksonomi hewan, Arius thalassinus berada dalam ordo Siluriformes bersama dengan lele dan patin, namun memiliki perbedaan pada struktur tengkorak dan duri sirip yang berbisa.
Regnum: Animalia Phylum: Chordata Classis: Actinopterygii Ordo: Siluriformes Familia: Ariidae Genus: Arius Spesies: Arius thalassinusKlik di sini untuk melihat Arius thalassinus pada Klasifikasi
Referensi
- Froese, R. & Pauly, D. (2023). FishBase. Arius thalassinus (Rüppell, 1837). World Wide Web electronic publication.
- Kottelat, M., Whitten, A.J., Kartikasari, S.N. & Wirjoatmodjo, S. (2013). Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Editions, Jakarta.
- Marceniuk, A.P. & Menezes, N.A. (2007). "Systematics of the family Ariidae (Ostariophysi, Siluriformes), with a redefinition of the genera". Zootaxa, 1416: 1-126.
- Nontji, A. (2018). Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta.
- White, W.T., Last, P.R., Dharmadi, Faizah, R. & Chodrijah, U. (2019). Ikan Laut Indonesia: Panduan Identifikasi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Komentar
Posting Komentar