Tempuyung (Sonchus arvensis)

Di sela-sela puing bangunan, pinggir jalan yang berbatu, atau di selokan yang terlupakan, kerap muncul tumbuhan liar dengan daun bergerigi dan bunga berwarna kuning cerah. Tanaman ini memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa, mampu tumbuh di tanah yang paling tidak subur sekalipun, serta cepat muncul kembali meskipun akarnya terpotong-potong. Batangnya yang berongga mengeluarkan getah putih seperti susu jika dipatahkan, suatu ciri khas dari suku tumbuhan tertentu.

Di Indonesia, tumbuhan ini lebih populer sebagai peluruh batu ginjal dalam pengobatan tradisional, meskipun khasiatnya masih terus diteliti secara ilmiah. Daunnya yang sedikit pahit sering dijadikan lalapan atau direbus untuk mengatasi penyakit kuning akibat batu empedu. Nama ilmiahnya, Sonchus arvensis, menunjukkan bahwa ia merupakan tumbuhan liar yang umum ditemukan di lahan pertanian (arvensis berarti "di ladang" dalam bahasa Latin).

Masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan tempuyung atau jombang, sementara di Sumatra disebut raja hutan atau lempung. Di Sunda, ia dikenal sebagai gongseng atau lampenas, merujuk pada sensasi rasa pahit yang menusuk lidah. Nama "tempuyung" sendiri konon berasal dari bunyi "puyung" yang menggambarkan perut kembung, karena tanaman ini dipercaya mampu mengatasi masalah pencernaan dan perut begah.

---ooOoo---

Manfaat utama tempuyung dalam pengobatan tradisional adalah sebagai diuretik (peluruh air seni) dan litolitik (penghancur batu). Rebusan daun tempuyung telah lama digunakan untuk membantu meluruhkan batu ginjal berukuran kecil hingga 5 mm, terutama batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat. Kandungan flavonoid, saponin, dan alkaloid dalam daunnya diduga mampu meningkatkan produksi urine sekaligus melarutkan endapan mineral dalam saluran kemih.

Selain untuk kesehatan, tempuyung juga memiliki manfaat ekologis sebagai tanaman pionir. Akarnya yang kuat membantu menstabilkan tanah di lahan kritis dan mencegah erosi. Bunga tempuyung menghasilkan nektar yang melimpah, menjadi sumber pakan penting bagi lebli madu dan berbagai serangga penyerbuk di musim kemarau ketika tanaman lain mulai meranggas. Di beberapa daerah, daun mudanya yang direbus dapat dimakan sebagai sayuran pahit ala perancis (mirip dandelion) untuk merangsang nafsu makan.

---ooOoo---

Ciri fisik tempuyung yang paling khas adalah daunnya yang berwarna hijau kebiruan (glaucous) dengan tepi yang sangat bergerigi (pinnatifid) dan duri-duri kecil yang lembut. Daun bagian bawah duduk dengan tangkai pendek, sementara daun bagian atas memeluk batang. Panjang daun bisa mencapai 15–30 cm dengan lebar 4–8 cm. Batang tegak, berongga, bergetah putih, dan beralur-alur, dengan tinggi 30–150 cm tergantung kesuburan tanah.

Bunga tempuyung tersusun dalam bongkol (capitulum) berwarna kuning cerah, mirip dengan bunga dandelion tetapi lebih besar (diameter 2–3 cm). Satu tangkai bunga dapat menghasilkan 5–20 bongkol yang tersusun dalam malai. Buahnya berupa achene (buah kering) berwarna cokelat gelap dengan panjang 2–3 mm, dilengkapi dengan bulu-bulu putih (pappus) yang berfungsi sebagai parasut untuk penyebaran oleh angin. Akarnya berupa akar tunggang putih kekuningan yang dapat menembus tanah hingga kedalaman 1 meter.

---ooOoo---

Habitat asli tempuyung diduga berasal dari Eropa Barat dan Asia Tengah, namun kini telah menyebar ke seluruh wilayah beriklim sedang hingga tropis, termasuk Indonesia. Tumbuhan ini tumbuh subur di dataran tinggi 500–3.000 meter di atas permukaan laut, terutama di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Ia sering ditemukan di kebun, pinggir jalan, lahan kosong, lereng gunung, dan area terganggu lainnya yang mendapat sinar matahari penuh.

Lingkungan ideal bagi tempuyung adalah tanah yang kering hingga agak lembab (tidak becek), dengan pH netral hingga agak basa (6,5–7,5). Ia menyukai suhu siang hari 18–25°C dan malam hari 10–15°C, sehingga paling banyak ditemukan di kawasan perkebunan teh Dieng, Lembang, dan Malang Raya. Tempuyung sangat toleran terhadap kekeringan karena akar tunggangnya yang panjang, namun tidak tahan terhadap genangan air. Di Indonesia, tanaman ini dapat berbunga sepanjang tahun namun paling lebat pada musim kemarau (Juni–September).

---ooOoo---

Siklus hidup tempuyung sangat cepat, termasuk dalam golongan tanaman semusim atau kadang dua tahunan. Biji berkecambah dalam 5–10 hari pada suhu 20–25°C, dengan daya kecambah yang tinggi (80–95%). Fase vegetatif berlangsung 30–40 hari hingga membentuk roset daun di permukaan tanah. Selanjutnya, batang memanjang dan berbunga pada umur 50–70 hari setelah perkecambahan.

Penyerbukan dibantu oleh serangga, terutama lebli, kupu-kupu, dan lalat, karena tempuyung bersifat herkogami (kepala sari dan putik masak pada waktu berbeda) sehingga tidak dapat menyerbuk sendiri secara efektif. Biji yang telah masak (berwarna cokelat gelap) siap disebarkan angin dalam 2–3 minggu setelah bunga mekar. Satu individu dapat menghasilkan 5.000–15.000 biji per musim. Perkembangbiakan vegetatif juga terjadi dari potongan akar yang tertinggal di tanah, menjadikannya gulma yang sulit diberantas di perkebunan. Tanaman mati setelah biji masak sempurna di musim kemarau.

---ooOoo---

Sebagai gulma yang tumbuh liar, tempuyung tidak terlalu rentan terhadap hama karena getah pahitnya. Namun, beberapa hama tetap menyerang, seperti kutu daun (Myzus persicae) yang mengisap cairan pucuk dan menyebabkan daun keriting. Ulat pemakan daun (Spodoptera litura dan Chrysodeixis chalcites) kadang membuat lubang-lubang pada helaian daun, terutama di musim hujan. Kumbang penggerek batang (Lixus elongatus) juga ditemukan pada tempuyung di dataran tinggi Dieng, meskipun tidak menyebabkan kematian tanaman.

Penyakit yang sering dijumpai antara lain bercak daun oleh cendawan Alternaria sonchi, ditandai dengan bercak cokelat konsentris pada daun tua. Karat putih (Puccinia sonchi) menyebabkan pustula berwarna kecokelatan di permukaan bawah daun, mengurangi kemampuan fotosintesis. Embun tepung (Erysiphe cichoracearum) muncul di musim kemarau sebagai lapisan putih seperti tepung. Sementara itu, penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Sclerotinia sclerotiorum dapat mematikan tanaman secara tiba-tiba saat kondisi tanah terlalu lembab dan tidak ada drainase. Pengendalian penyakit ini di pertanaman jarang dilakukan karena tempuyung umumnya dianggap gulma, kecuali jika dibudidayakan untuk bahan obat.

---ooOoo---

Klasifikasi

Sonchus arvensis termasuk dalam famili Asteraceae (suku kenikir-kenikiran), famili tumbuhan berbunga terbesar dengan lebih dari 23.000 spesies. Dalam famili ini, tempuyung masuk ke dalam tribus Cichorieae yang dicirikan oleh bunga berwarna kuning dan getah putih (lateks). Marga Sonchus memiliki sekitar 50 spesies tersebar luas di belahan bumi utara, dengan beberapa spesies di antaranya menjadi gulma kosmopolitan.

Regnum: Plantae
Divisio: Magnoliophyta
Classis: Magnoliopsida
Ordo: Asterales
Familia: Asteraceae
Genus: Sonchus
Spesies: Sonchus arvensis
Klik di sini untuk melihat Sonchus arvensis pada Klasifikasi
---ooOoo---

Referensi

  • Backer, C.A. & Bakhuizen van den Brink, R.C. (2015). Flora of Java. Vol. II. Noordhoff, Groningen.
  • Dalimartha, S. (2018). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 6. Penerbit Pustaka Bunda, Depok.
  • Hariana, A. (2020). Tumbuhan Obat & Khasiatnya. Seri 3. Penebar Swadaya, Jakarta.
  • Hutapea, J.R. (2016). "Uji efektivitas rebusan daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) terhadap pelarutan batu ginjal kalsium oksalat secara in vitro". Jurnal Penelitian Tanaman Industri, 22(1): 34-42.
  • Sastrapradja, S. & Afriastini, J.J. (2017). Gulma Indonesia. LIPI Press, Jakarta.

Komentar