Bandotan (Ageratum conyzoides)
Di tepian jalan, ladang kosong, atau sela-sela rerumputan liar, sosok mungil ini sering kali hadir tanpa disadari. Daunnya kecil dan berbulu, bunganya ungu kebiruan seolah mekar seadanya. Namun di balik penampilannya yang sederhana, Ageratum conyzoides menyimpan cerita panjang yang berkelindan antara pengabaian dan pemanfaatan. Tak sedikit yang menganggapnya gulma pengganggu, tetapi justru dari status liarnya itulah ia belajar bertahan. Bertahan dari kaki manusia, dari arus air, dan dari cangkul petani yang tak menginginkannya. Namun bandotan, sebagaimana ia lebih dikenal, tak pernah benar-benar pergi. Ia tumbuh kembali, seolah menyimpan pesan: bahwa yang tampak tak berharga, bisa jadi menyimpan makna yang besar. Ageratum conyzoides adalah nama ilmiah yang digunakan para ilmuwan. Namun di tengah masyarakat Indonesia yang kaya budaya, nama bandotan lebih akrab di telinga. Nama ini dipercaya berasal dari bau khas daun dan batangnya yang menyerupai aroma kambing...